PERBANDINGAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (SAW) DAN TECHNIQUE POR ORDER PREFERENCE BY SIMILIARITY TO IDEAL SOLUTION (TOPSIS) UNTUK PENILAIAN KINERJA GURU DI MA DARUL FAIZIN KAJUK, SAMPANG
Penulis SuhariantoSkripsi
2024
708/UB/FT-INF/24
Ind
PERBANDINGAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (SAW) DAN TECHNIQUE POR ORDER PREFERENCE BY SIMILIARITY TO IDEAL SOLUTION (TOPSIS) UNTUK PENILAIAN KINERJA GURU DI MA DARUL FAIZIN KAJUK, SAMPANG
#1714311050/INF/24Pengarang: Suharianto
Pembimbing Pertama: Dr. Eko Prasetyo, S.Kom., M.Kom.
Pembimbing Kedua: Budi M. Mulyo, S.Kom., M.T.
Jenis: Skripsi
Penerbit: UBHARA : INF- Teknik
Tahun Terbit: 2024
Bahasa: Ind
Kode: 708/UB/FT-INF/24
No. Klasifikasi: 658.1 Suh P
Jenis Karya: S1
Jenis
Skripsi
Tahun
2024
Status
Tersedia
Kode
708/UB/FT-INF/24
Deskripsi Fisik
xvii + 122 hal; 21 X 30 cm
Subyek
Sistem Pendukung Keputusan
Kata Kunci
Anotasi
ABSTRAK Sistem Pendukung Keputusan (SPK) Penilaian Kinerja Guru (PKG) dalam penelitian menggunakan dua metode antara Simple Additive Weighting (SAW) dan Technique for Order Preference by Similiarity to Ideal Solution (TOPSIS) karena memiliki kelebihan yang terletak pada ketepatan berdasarkan kriteria dan bobot preferensi. Masalah yang akan diatasi adalah penilaian subjektif dari pihak kepala sekolah kepada jajaran guru. Analisis perbandingan metode SAW dan TOPSIS dalam menilai kinerja guru memilih model waterfall melalui pengembangan sistem untuk penilaian kinerja guru dalam penentuan bobot penilaian berdasarkan kriteria. SAW dan TOPSIS digunakan untuk mengevaluasi kinerja guru secara objektif. Konsep dasar metode SAW dan TOPSIS adalah mencari penjumlahan terbobot dari kinerja pada setiap alternatif dan setiap atribut Penelitian ini membandingkan kedua metode tersebut dalam menilai kinerja guru berdasarkan lima kriteria, di antaranya, tingkat kehadiran, kedisiplinan, tingkat pendidikan, keorganisasian, dan pengembangan diri. Data kinerja 13 guru dikumpulkan dan dianalisis menggunakan metode SAW dan TOPSIS Hasil menunjukkan bahwa kedua metode menghasilkan peringkat yang sama untuk guru terbaik. Metode SAW menunjukkan Guru Faridatul Azman, S.Pd. sebagai yang terbaik, pun dengan TOPSIS menunjukkan hasil yang sama sebagai yang terbaik meskipun ada beberapa guru yang hasil penilaiannya berbeda. Dalam penilaian kinerja guru, metode SAW dan TOPSIS menunjukkan bahwa kedua metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing- masing. Metode SAW memberikan kelebihan dalam kemudahan implementasi dan transparansi dalam penentuan nilai kinerja, tetapi cenderung kurang mampu mengatasi ketidakpastian dan subjektivitas dalam penentuan bobot kriteria. Sedangkan TOPSIS adalah metode yang sederhana, praktis dan logis untuk dipelajari dan diterapkan. Namun metode TOPSIS tidak memiliki mediator seperti hierarki, sehingga akurasi hasil dalam pengambilan keputusan kurang efektif.
Catatan
Wisuda 2024