PENERAPAN AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN BIAYA PRODUKSI PADA PT. WASKITA BETON PRECAST Plant Prambon Sidoarjo
Penulis MARANTIKA, ELISkripsi
2019
3148/UB/FEB-Ak/19
Ind
PENERAPAN AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN BIAYA PRODUKSI PADA PT. WASKITA BETON PRECAST Plant Prambon Sidoarjo
#14023030Pengarang: MARANTIKA, ELI
Pembimbing Pertama: Arief Rahman., SE., M.Si.
Pembimbing Kedua: Dr. Siti Rosyafah, Dra.,Ec.,MM.
Jenis: Skripsi
Penerbit: UBHARA FE-AKUTANSI
Tahun Terbit: 2019
Bahasa: Ind
Kode: 3148/UB/FEB-Ak/19
No. Klasifikasi: 657.73 Mar p
Jenis Karya: S1
Jenis
Skripsi
Tahun
2019
Status
Tersedia
Kode
3148/UB/FEB-Ak/19
Deskripsi Fisik
xvi + 108 hal; 21x30 cm
Subyek
AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN
Kata Kunci
Anotasi
ABSTRAK Akuntansi pertanggungjawaban merupakan Informasi Akuntansi Pertanggungjawaban yang terdiri atas informasi biaya masa lalu dan masa datang, estimasi biaya yang menjadi tanggungjawab seseorang digunakan dalam proses perencanaan, khususnya dalam proses perencanaan yang disebut anggaran. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Bagaimana Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Sebagai Alat Pengendalian Biaya Produksi Pada PT. Waskita Beton Precast plant prambon, Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif deskriptif karena dalam penelitian ini telah dijabarkan mengenai suatu masalah dan harus dicari bagaimana memecahkan masalahnya. Menggunakan data primer yang sumbernya diperoleh langsung dari objek penelitian dan teknik pengumpulan datanya melalui observasi wawancara. Hasil analisa menunjukkan bahwa penerapan akuntansi pertanggungjawaban sebagai alat pengendalian biaya produksi pada PT. Waskita Precast Pelaksanaan pengendalian biaya khususnya biaya produksi belum efisien dilakukan, dimana pada laporan pertanggungjawaban biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik terdapat selisih yang tidak menguntungkan dan adanya peningkatan selisih yang terjadi dari tahun 2014 – 2017 yang disebabkan karena adanya perubahan harga atau harga beli bahan baku yang lebih tinggi dari yang dianggarkan. Sehingga perusahaan harus melakukan estimasi ulang biaya agar lebih fleksibel.