ANALISIS SEMIOTIKA IKLAN LAYANAN MASYARAKAT BERTEMA “PENTINGNYA MENDAMPINGI ANAK MENONTON TV” DI TRANS7
Penulis Khoiroh, Nur AsitaSkripsi
2019
1127/UB/FISIP-Kom/19
Ind
ANALISIS SEMIOTIKA IKLAN LAYANAN MASYARAKAT BERTEMA “PENTINGNYA MENDAMPINGI ANAK MENONTON TV” DI TRANS7
#1513211157Pengarang: Khoiroh, Nur Asita
Pembimbing Pertama: Tira Fitriawardhani, S.Sos.M.Si
Pembimbing Kedua: M. Fadeli, S.Sos. M.Si
Jenis: Skripsi
Penerbit: UBHARA - FISIP Kom
Tahun Terbit: 2019
Bahasa: Ind
Kode: 1127/UB/FISIP-Kom/19
No. Klasifikasi: 302.23 Kho a
Jenis Karya: S1
Jenis
Skripsi
Tahun
2019
Status
Tersedia
Kode
1127/UB/FISIP-Kom/19
Deskripsi Fisik
xiv, 88 hal; 30 cm
Subyek
SEMIOTIKA - IKLAN LAYANAN
Kata Kunci
Anotasi
ABSTRAK Dewasa ini televisi menjadi media informasi yang sangat populer dan digemari oleh berbagai lapisan masyarakat. Berbagai jenis tayangan televisi yang ditampilkan berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter serta perilaku seseorang salah satunya anak-anak yang sering menonton TV tanpa ada dampingan orang tua. Iklan layanan masyarakat menjadi satu-satunya media untuk menyadarkan para orang tua agar selalu mendampingi anak menonton TV. Salah satunya Trans7 yang menayangkan iklan layanan masyarakat bertema “Pentingnya Mendampingi Anak Menonton TV”. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk menganalisis iklan layanan masyarakat tersebut dengan judul “ANALISIS SEMIOTIKA IKLAN LAYANAN MASYARAKAT BERTEMA “PENTINGNYA MENDAMPINGI ANAK MENONTON TV” DI TRANS7”. Penelitian ini memfokuskan pada analisis makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam iklan layanan masyarakat dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif teori Roland Barthes. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) makna denotasi menjelaskan sosok anak kecil yang gemar menonton TV sendirian tanpa ada dampingan orang tua. (2) makna konotasi menunjukkan hal-hal yang ditirukan anak kecil yang menonton berbagai tayangan televisi, sedangkan orang tua yang bersikap acuh tak acuh pada anaknya. (3) makna mitos menggambarkan bagaimana sosok anak kecil yang suka menirukan tiap adegan pada tayangan televisi yang ditontonnya dalam kehidupan sosial, sementara orang tua digambarkan sebagai sosok yang membiarkan anakanaknya menonton TV sendirian tanpa kenal waktu.